Masuk ke Dalam Api Penganiayaan: Keteguhan Daniel
Dan gemanya di Asia Timur.
echoes of pentecost hari 5 — April 25, 2025
Dalam Kitab Daniel, kita menemukan sebuah narasi yang menyentuh hati dan sangat relevan dengan perjuangan minoritas Kristen di Asia Timur saat ini. Daniel, seorang bangsawan muda Yahudi yang ditawan selama pembuangan di Babel, muncul sebagai simbol iman yang teguh dan ketahanan rohani. Kisahnya tentang keteguhan hati mendorong orang percaya untuk mempertahankan keyakinan mereka di tengah kesulitan, menjadi tonggak bagi mereka yang harus menghadapi tantangan hidup di lingkungan yang tidak bersahabat.
Yang menarik dari kisah Daniel bukan hanya integritas pribadinya, tetapi juga kesamaan mendalam dengan pengalaman komunitas Kristen minoritas di Asia Timur. Banyak kelompok bahasa minoritas yang hidup dalam bayang-bayang penganiayaan memiliki sejarah yang dipenuhi konflik dengan mayoritas nasional, dan sering kali menemukan diri mereka dalam situasi yang menggema dengan kisah Daniel — menjadi asing namun tetap teguh, mencari penghiburan dan kekuatan di tengah lanskap yang keras, di mana ideologi politik telah mengambil tempat seakan-akan sebagai agama.
Selain itu, Kitab Daniel juga unik karena ditulis dalam dua bahasa, yaitu Aram dan Ibrani. Pilihan ini secara sengaja menegaskan pentingnya misi penerjemahan Alkitab — menyoroti kebutuhan untuk menyampaikan Firman Tuhan dalam bahasa yang benar-benar menyentuh hati audiens yang dituju.
Sebagaimana Kitab Daniel dengan berani menyatakan dalam Daniel 3:17-18, keberanian dan keteguhan ini bisa menjadi seruan kuat bagi kelompok bahasa yang masih hidup di tengah gema konflik sejarah. Komunitas Kristen di Asia Timur layak menerima Firman Tuhan dalam bahasa mereka sendiri — ini bukan sekadar penerjemahan; ini adalah kebutuhan mutlak untuk mempertahankan iman mereka di tengah permusuhan.
Waktunya adalah sekarang, agar mereka dapat mendengar dan merangkul Kitab Suci dalam bahasa yang berbicara paling dekat dengan hati mereka — berikan satu ayat hari ini, ketika Gema Pentakosta terdengar, ketika Surga bertemu Bumi.
Perjalanan Iman Suku Way*
Suku Way* mengidentifikasi diri mereka sebagai orang Kristen, tetapi masih sering dipengaruhi oleh kepercayaan animisme. Banyak dari mereka yang masih mempersembahkan korban untuk menenangkan roh leluhur. Selain itu, ketidakstabilan politik telah mengancam kesejahteraan seluruh negara mereka.
Banyak penutur bahasa Way* terpaksa melarikan diri demi menyelamatkan nyawa mereka. Dalam situasi sulit ini, para penerjemah Alkitab terus bekerja menerjemahkan Injil Yohanes dan kitab-kitab Perjanjian Baru lainnya. Meskipun ia adalah seorang pemimpin gereja, penerjemah Way* bernama Paul* awalnya masih mencampurkan imannya dengan kepercayaan tradisional Way*. Namun, setelah bekerja menerjemahkan Kitab Roma, ia menegaskan keyakinannya bahwa keselamatan hanya datang melalui Kristus!
Donasi Anda Membawa Perubahan.
Sahabat, dukungan Anda untuk mempercepat upaya penerjemahan Alkitab membawa Firman Tuhan kepada komunitas-komunitas seperti suku Way*. Donasi Anda hari ini akan digandakan, sehingga dampaknya menjadi dua kali lipat! Pertimbangkanlah untuk memberikan satu ayat — hanya satu ayat saja dapat mengubah hidup seseorang, seperti yang terjadi pada Paul.
Maukah Anda membantu membawa kejelasan dan harapan melalui Kitab Suci?