Dari Gembala Menjadi Raja, Dari Keberanian Menjadi Kejatuhan

Seorang Raja yang Cacat Menjadi Simbol Harapan dan Penebusan bagi Asia Timur

echoes of pentecost hari 6 — April 26, 2025

Daud memiliki peran besar dalam narasi Alkitab — bukan hanya sebagai gembala muda yang mengalahkan raksasa Goliat atau sebagai raja Israel yang termasyhur yang menjadikan Yerusalem pusat rohani kerajaannya. Warisannya begitu beragam sekaligus bermakna. Sebagai pejuang dan penyair yang dielu-elukan Israel, Daud juga adalah sosok yang penuh kelemahan, pernah merancang kematian Uria untuk mengambil istrinya.

Dualitas inilah yang membuat Daud begitu menarik; ia mewakili puncak keberanian sekaligus kedalaman kegagalan moral. Namun di atas segalanya, Daud berdiri sebagai pembawa janji: sebuah garis keturunan yang mengarah kepada kerajaan kekal, digenapi dalam pribadi Yesus Sang Mesias.

Di banyak wilayah Asia Timur, di mana mengekspresikan iman bisa sangat berbahaya, kisah Daud menawarkan inspirasi dan refleksi. Sebagai penulis utama dari 73 dari 150 mazmur, tulisan-tulisan Daud menjadi harta karun emosional dan rohani bagi umat Kristen dari kelompok bahasa minoritas yang menghadapi pembatasan berat dalam beriman.

Menerjemahkan mazmur ke dalam bahasa ibu minoritas Asia Timur — suara bagi mereka yang tertindas dan dianiaya — akan memungkinkan mereka untuk berdoa dengan doa-doa tulus Daud, memperkuat iman mereka di tengah kesulitan.

Bagi umat Kristen dari kelompok bahasa minoritas di Asia Timur, di mana akses terhadap Alkitab sangat dikendalikan, mazmur-mazmur Daud dalam bahasa terdekat di hati mereka menjadi pondasi penting bagi para pemimpin gereja untuk menumbuhkan pertumbuhan rohani, khususnya bagi mereka yang belum pernah mendengar kuasa transformatif Firman Tuhan dalam bahasa mereka sendiri.

Hari ini, kami mengundang Anda untuk memberikan satu ayat — biarkan hadiah Anda menerangi jalan mereka dan membimbing langkah mereka — biarkan mazmur-mazmur Raja Daud menjadi janji harapan dan penebusan.

Kelegaan dari Penderitaan

Penatua Lubi Pihu bergabung dengan tim penerjemah Alkitab Sediq setelah mengalami belas kasih Tuhan melalui penderitaan pribadi. Pada usia 10 tahun, ia terkena meningitis, mengalami kehilangan ingatan yang memaksanya putus sekolah. Ketika keputusasaan mulai menguasainya, seorang anggota gereja memberitahunya tentang dua sekolah yang menerima siswa putus sekolah dari suku pribumi — salah satunya adalah Sekolah Alkitab.

Meskipun menghadapi kesulitan akademis, Lubi terdorong untuk mempelajari 20 pasal Alkitab setiap hari di samping kurikulum regulernya. Melalui disiplin ini, Tuhan tidak hanya memulihkan ingatannya, tetapi juga menyembuhkan disabilitas fisik yang telah membebaninya sejak kecil.

Kesaksiannya begitu menggerakkan hati tim penerjemah Alkitab sehingga mereka menawarinya posisi di tim, meskipun mereka harus mengajarinya keterampilan komputer dari awal. Meski awalnya ragu karena tantangan belajarnya, Penatua Lubi menerima tugas tersebut dengan keyakinan pada kesetiaan Tuhan.

Seperti Penatua Lubi, ribuan orang masih menantikan Firman Tuhan dalam bahasa hati mereka untuk mengalami transformasi. Hari ini, hadiah Anda akan digandakan, membawa Firman penyembuhan Tuhan kepada komunitas-komunitas yang sedang menanti.

Lipatgandakan dampak Anda hari ini! Berikan satu ayat dan hadiah Anda akan digandakan — membantu lebih banyak orang menerima Firman Tuhan dalam bahasa hati mereka.

Klik ikon di bawah ini untuk membagikan kampanye ini kepada teman dan keluarga Anda untuk meningkatkan kesadaran tentang penerjemahan Alkitab di Asia!

Please Fill out the form below